
Pada 13 Juli 2026, Safeguarding Collective Team, Fauzia dan Arika, memberikan sebuah pelatihan singkat untuk para guru di BINUS School Bekasi mengenai deteksi dini, pencegahan, dan penanganan kekerasan di lingkungan sekolah. Pelatihan ini dihadiri oleh hampir 50 guru dari jenjang PAUD hingga SMA. Kehadiran para pendidik dari berbagai latar belakang mata pelajaran dan peran menciptakan dinamika diskusi yang kaya dan mencerminkan komitmen sekolah untuk membangun budaya perlindungan anak yang menyeluruh.

Pelatihan dimulai dengan sesi refleksi, di mana para guru diajak untuk merenungkan pengalaman mereka sebagai pendidik: apa yang membuat mereka memilih profesi ini, serta tantangan apa saja yang sering muncul di kelas. Pendekatan ini menekankan pada pengalaman hidup para guru dan membantu mereka menghubungkan teori dengan situasi nyata yang mereka hadapi setiap hari.
Setelah sesi refleksi, para guru dibagi ke dalam enam kelompok dan masing‑masing kelompok menerima satu studi kasus. Studi kasus tersebut dirancang menyerupai situasi yang benar‑benar dapat terjadi di sekolah, seperti tanda awal perundungan, konflik antar siswa, eksploitasi dan kekerasan seksual berbasis daring, serta isu kesehatan mental yang membutuhkan perhatian khusus. Dalam diskusi kelompok, para guru membahas indicator dan tanda-tanda apa yang perlu diperhatikan, bagaimana mereka akan merespons, siapa saja yang perlu dilibatkan, serta langkah tindak lanjut yang harus dilakukan untuk memastikan keselamatan dan kesejahteraan siswa. Salah satu peserta bahkan menyampaikan bahwa pelatihan ini memiliki “alur yang baik dan studi kasus yang relevan,” menunjukkan bahwa metode pembelajaran yang digunakan terasa dekat dengan realitas mereka.
Hasil evaluasi menunjukkan respons yang sangat positif. Sebanyak 89% peserta merasa durasi pelatihan sudah tepat. Para guru juga melaporkan peningkatan pemahaman yang signifikan, dengan sebagian besar memberikan skor 8 hingga 10 pada skala 10 poin. Temuan ini menguatkan bahwa para guru sebenarnya telah memiliki fondasi yang kuat dalam isu safeguarding. Diskusi kelompok juga mengungkap sejumlah wawasan penting yang akan menjadi arah pengembangan kapasitas di masa mendatang. Para guru menyoroti dinamika kekuasaan antara guru senior dan junior, hubungan guru dan orang tua, terutama ketika berhadapan dengan “orang tua yang sulit” serta peran krusial konselor sekolah dalam mendukung kondisi kesehatan mental siswa. Selain itu, muncul kebutuhan untuk memperjelas mekanisme pelaporan dan respons agar proses penanganan kasus dapat berjalan lebih konsisten dan terkoordinasi.
Pelatihan ditutup dengan suasana optimis dan rasa tanggung jawab bersama.
Di tengah tantangan yang semakin kompleks, mulai dari risiko digital hingga isu kesehatan mental, penguatan praktik safeguarding bukan hanya penting, tetapi mendesak. Pelatihan ini menjadi salah satu langkah nyata untuk memastikan bahwa setiap anak belajar dalam lingkungan yang aman, suportif, dan responsif terhadap kebutuhan mereka.



